publication-banner-image

AED 30.00

ISBN: 978-9948-8741-5-7

Add To Cart Buy Now
17 Mei 2020

Ikhwanul Muslimin Latar Belakang Kemunculan

Available in other languages:

Ikhwanul Muslimin didirikan pada tahun 1928 oleh Hasan al-Banna, saat itu seorang guru sekolah dasar di Ismailia, ketika Mesir berada di bawah pemerintahan kolonial Inggris.
– Kemunculan Ikhwanul Muslimin adalah hasil gabungan dari transformasi sosial, demografi, urban, ekonomi, dan sosial yang dialami oleh Mesir selama sepertiga awal abad kedua puluh. Mereka
membentuk kekuatan pendorong untuk memunculkan banyak gerakan-gerakan sosial dan keagamaan yang berusaha untuk mengubah kondisi tersebut, terlebih dengan kegagalan elit penguasa dalam mencari solusi yang efektif atas isu-isu di masyarakat saat itu.
– Ikhwanul Muslimin berhasil menggunakan keadaan sosial, ekonomi, dan politik yang dialami Mesir pada sepertiga awal abad kedua puluh untuk membangun dukungan dari masyarakat  elaskelas terpinggirkan dan miskin, yang mempercayai gagasan dan pendirian mereka.
– Situasi ekonomi yang buruk, tidak adanya keadilan sosial, dan adanya stratifikasi serta ketimpangan sosial tercermin dalam situasi sosial mayoritas masyarakat Mesir, yang mengalami marginalisasi dan kemiskinan selama sepertiga awal abad kedua puluh. Suasana ini membuka jalan bagi kemunculan Ikhwanul Muslimin.
– Penyebaran gerakan misionaris selama sepertiga awal abad ke-20 ini adalah salah satu alasan dibalik kemunculan Ikhwanul Muslimin. Hasan al-Banna, pendirinya, memanfaatkan hal ini dengan memosisikan dirinya sebagai lawan dari pergerakan-pergerakan tersebut.
– Pendidikan adalah salah satu titik masuk terpenting dalam visi berbasis perubahan Hasan al-Banna dan organisasinya. Mereka
sangat mengutamakan bidang pendidikan, sering kali menuntut perbaikan kondisi pendidikan yang memburuk di Mesir yang saat
itu di bawah pendudukan Inggris. Pendidikan masih dan tetap menjadi sarana yang paling diminati oleh Ikhwanul Muslimin
untuk menyebarkan gagasan dan ideologi mereka.
– Konteks historis tempat munculnya Ikhwanul Muslimin ini ditandai dengan intensnya aktivitas intelektual, politik, dan kolektif yang terwujud dalam konflik antara berbagai aliran mengenai isuisu identitas dan modernisasi, watak rezim, dan proses perkembangan. Arus modernisme, dengan gagasan dan visinya yang terbuka pada dunia Barat, adalah faktor kuat dalam kemunculan kelompok-kelompok keagamaan yang menentang tren ini, dan menawarkan visi Islam alternatif yang dikaitkan dengan tujuan politik.
– Sumber dari visi dan gagasan yang diadopsi oleh Ikhwanul Muslimin didasarkan pada ideologi lama, seperti: Ideologi Khawarij dan Ibnu Taimiyah, dan ideologi-ideologi baru yang terutama
berfokus pada pelopor Renaisans Islam, seperti: Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, dan Abul
A’la al-Maududi.
– Sejak pembentukannya, Ikhwanul Muslimin terorganisir dalam struktur hierarki administrasi yang ketat, terdiri dari; sel, unit administrasi dan regional, dan lembaga pusat. Satu di antaranya
membentuk sayap militer yang disebut “Aparat Rahasia”. Ikhwanul Muslimin mendapatkan jaringan sosial, aktivitas dan proyek pendidikan dan ekonomi, beserta dengan program pendidikan
untuk anggota baru yang mengandalkan kedisiplinan dan saling ketergantungan. Aparat pusat rahasia dan hierarki ini masih ada hingga kini.
– Pada tahap pendirian, dari tahun 1928 sampai revolusi 1952, Ikhwanul Muslimin telah dipengaruhi oleh gagasan-gagasan klasik dari pendiri lama kelompok Hasan al-Banna, yang berfokus pada
sisi panggilan dan berusaha mengislamkan masyarakat dan membangun pemerintahan model Islam secara progresif dan multitahap.
– Sayyid Qutb, ahli teori Ikhwanul Muslimin, mengemukakan dengan keras, menolak munculnya nasionalisme sekuler di Mesir.
Ia adalah Islamis pertama yang mendeklarasikan perang budaya melawan Barat, ia juga meyakini bahwa masyarakat Islam telah kembali ke keadaan jahiliah seperti saat sebelum munculnya Islam di Jazirah Arab. Dalam tulisannya, ia menggambarkan kelemahan, ketidakadilan, kemiskinan moral, dan dominasi manusia dan kontrol kekuasaan, yang memungkinkannya untuk membuat undang-undang dan mendefinisikan prinsip-prinsip keadilan dan hak sesuai dengan perspektif dan kepentingannya.
– Meskipun banyak tokoh kunci yang sedikit banyak berkontribusi pada kemunculan Ikhwanul Muslimin, secara umum, Hasan al-Banna dan Sayyid Qutb dianggap sebagai yang terpenting dari
tokoh-tokoh ini. Hasan al-Banna menentukan dasar untuk struktur organisasi dan ideologi serta tujuan umum organisasi, sedangkan gagasan Sayyid Qutb menjadi dasar yang digunakan sebagian besar organisasi ekstrimis dan teroris untuk membangun pembenaran mereka mempraktikkan terorisme dan menghasut untuk menggulingkan rezim yang berkuasa.
– Gagasan dan ideologi yang dikembangkan oleh Hasan al-Banna adalah dasar dari struktur organisasi dan administratif Ikhwanul Muslimin. Ia berusaha menerjemahkan gagasan dan
prinsip ini dalam kehidupan, khususnya yang berkaitan dengan proyek politiknya dalam hal kekuasaan dan supremasi dunia.